Selasa, 22 September 2026
Headline

Hadir di Rona Budaya sulut Gubernur YSK Sebut, Budaya Memperkuat Jati Diri Daerah

JurnalMongondow.com-MANADO – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut) kembali menggelar rangkaian Rona Budaya Sulawesi Utara, memasuki Pekan Ketiga yang mengangkat tema “Budaya Adampe Dolot”, Sabtu (19/9/2026), di Museum Negeri Sulawesi Utara.

Pekan Ketiga Rona Budaya secara khusus mengangkat kekayaan budaya wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR), sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya, sejarah, kearifan lokal, serta keteladanan yang diwariskan para pendahulu.

Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan Pekan Pertama, Pekan Bataha Santiago, dan Pekan Kedua, Pekan Maria Walanda Maramis, hingga pelaksanaan Pekan Ketiga.

Menurut Gubernur, Rona Budaya merupakan bagian dari upaya bersama untuk merayakan warisan budaya, merawat keberagaman dan menguatkan identitas daerah.

“Merayakan Warisan Budaya, Merawat Keberagaman, Menguatkan Identitas,” menjadi tema besar yang menjadi semangat pelaksanaan Rona Budaya Sulawesi Utara.

Gubernur mengatakan, budaya Bolaang Mongondow Raya tidak hanya sebatas tari, musik, pakaian adat, kuliner, kerajinan maupun berbagai bentuk kesenian yang dapat dinikmati, tetapi di dalamnya terdapat nilai, sejarah, cara hidup, semangat kebersamaan dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Karena itu, menjaga budaya bukan hanya menjaga bentuk luarnya, tetapi juga menjaga nilai dan makna yang terkandung di dalamnya,” ujar Gubernur.

Bolaang Mongondow Raya, lanjutnya, memiliki kekayaan budaya yang menjadi bagian penting dari identitas Sulawesi Utara. Sejumlah kesenian seperti Tari Dangisa, Dana-Dana Tradisional, Tari Giomu, Tari Tuitan dan Tari Kabela merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu terus dikenalkan dan dikembangkan.

Gubernur menekankan agar warisan budaya tidak hanya hadir ketika dipentaskan, tetapi benar-benar hidup dalam masyarakat dan dikenal oleh generasi penerus.

“Jangan sampai generasi muda lebih mengenal budaya dari luar daripada mengenal budaya yang lahir dan tumbuh dari tanah tempat mereka berpijak,” tegasnya.

Adampe Dolot dan Keteladanan

Pemilihan nama Adampe Dolot sebagai bagian dari Rona Budaya Pekan Ketiga juga memiliki makna penting. Menurut Gubernur, momentum ini bukan hanya untuk mengenang seorang tokoh, tetapi juga menghidupkan kembali nilai perjuangan dan keteladanan yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi sekarang.

Semangat Adampe Dolot diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih maju melalui pendidikan, pemberdayaan dan kepedulian terhadap kehidupan sosial.

“Sejarah dan keteladanan para pendahulu tidak boleh berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi menjadi inspirasi untuk membangun masa depan,” kata Gubernur.

Gubernur juga menegaskan bahwa keberlangsungan budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Keluarga, sekolah, komunitas, sanggar seni, tokoh adat, tokoh masyarakat, seniman, budayawan dan generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberadaan budaya.

“Budaya tidak akan hidup hanya karena dipentaskan. Budaya akan hidup apabila dipraktikkan, dihargai dan diwariskan,” ujarnya.

Karena itu, Pekan Adampe Dolot diharapkan menjadi momentum untuk semakin mencintai budaya Bolaang Mongondow Raya, menjaga nilai-nilainya, mengembangkan sesuai perkembangan zaman, serta mewariskannya kepada generasi berikutnya.

“Melalui budaya dan semangat kebersamaan, mari kita terus bergerak bersama membangun daerah, mewujudkan Sulawesi Utara Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan,” pungkas Gubernur.

Pekan Adampe Dolot ditutup dengan ajakan untuk terus merayakan warisan budaya dengan bangga, merawat keberagaman dengan kasih, dan menguatkan identitas dengan karya.

Mototompiaan, Mototabian, bo Mototanoban.

Komentar Facebook

komentar

About Redaktur